Menurut BRI Danareksa, langkah ini merupakan sinyal pengetatan suplai, bukan cerminan pelemahan permintaan.
Dampaknya langsung terasa ke emiten, terutama karena banyak perusahaan sebelumnya mengajukan RKAB agresif, namun kuota yang disetujui jauh lebih kecil.
Risiko utama yang muncul adalah penurunan volume produksi dan perlambatan pertumbuhan pendapatan.
Dalam jangka pendek, emiten yang sangat bergantung pada volume produksi berpotensi paling tertekan.
Namun, menurut hemat BRI Danareksa, kebijakan ini tidak sepenuhnya negatif. “Permainan” berubah dari sekadar mengejar volume menjadi kemampuan mempertahankan kuota besar saat harga menguat.