“Produksi masih berjalan, tetapi tidak pada kapasitas penuh, dan pengapalan batu bara akan dibatasi sampai ada keputusan final terkait kuota pemerintah,” kata Wakil Ketua Asosiasi Pertambangan Batu Bara Indonesia (APBI), H. Kristiono, kepada Reuters.
Ia menambahkan, saat ini tidak ada kargo spot yang ditawarkan ke pasar.
Kristiono mengatakan, kontrak jangka panjang masih tetap dipenuhi. Meski demikian, sejumlah penambang mempertimbangkan pembatalan kontrak dengan alasan keadaan di luar perkiraan.
Usulan kebijakan ini menjadi gangguan pasokan terbaru yang dipicu oleh kebijakan pemerintah Indonesia, yang bertujuan meningkatkan penerimaan negara di tengah melemahnya permintaan dari pembeli utama, yakni China dan India.
Sebelumnya, larangan ekspor singkat pada 2022 sempat mendorong lonjakan tajam harga batu bara.
Berdasarkan data Kpler, Indonesia menyumbang sekitar setengah dari total ekspor global batu bara untuk pembangkit listrik yang mencapai 960 juta metrik ton pada 2025.