Harga batu bara global acuan ICE Newcastle tercatat sempat naik sekitar 5 persen ke kisaran USD117 per ton dan menguat sekitar 11 persen secara year to date (YtD), seiring ekspektasi pengetatan suplai.
“Harga yang lebih baik bisa meningkatkan margin, khususnya bagi emiten dengan kuota yang relatif aman,” kata BRI Danareksa.
BRI Danareksa menilai sejumlah emiten berada di “zona aman” RKAB. PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) dinilai relatif aman dengan produksi utama sekitar 65,2 juta ton dan pemangkasan yang tidak dominan.
PT Bumi Resources Tbk (BUMI) juga disebut diuntungkan karena unit KPC dan Arutmin tidak dipangkas, dengan estimasi produksi sekitar 74 juta ton, sehingga skala besar menjadi keunggulan saat suplai mengetat.
Sementara itu, PT Indika Energy Tbk (INDY) melalui Kideco berada di zona aman dengan produksi sekitar 30 juta ton dan dinilai siap menangkap manfaat kenaikan harga.