AALI
8250
ABBA
214
ABDA
6025
ABMM
3960
ACES
610
ACST
176
ACST-R
0
ADES
7175
ADHI
715
ADMF
8300
ADMG
167
ADRO
3960
AGAR
292
AGII
2350
AGRO
550
AGRO-R
0
AGRS
90
AHAP
85
AIMS
242
AIMS-W
0
AISA
164
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
1635
AKRA
1350
AKSI
316
ALDO
655
ALKA
290
ALMI
392
ALTO
181
Market Watch
Last updated : 2022/09/30 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
534.58
0.21%
+1.10
IHSG
7040.80
0.07%
+4.60
LQ45
1011.48
0.24%
+2.44
HSI
17222.83
0.33%
+56.96
N225
25937.21
-1.84%
-484.84
NYSE
13608.29
-1.63%
-224.91
Kurs
HKD/IDR 1,939
USD/IDR 15,260
Emas
819,860 / gram

Demi Tarik Nasabah, Berhasilkah ‘Bakar Uang’ ala Bank Digital?

MARKET NEWS
Melati Kristina - Riset
Senin, 13 Juni 2022 17:07 WIB
Sebagai pendatang baru, bank digital adu strategi dengan menggelontorkan biaya iklan dan promosi yang fantastis.
Demi Tarik Nasabah, Berhasilkah ‘Bakar Uang’ ala Bank Digital? (Foto: MNC Media)
Demi Tarik Nasabah, Berhasilkah ‘Bakar Uang’ ala Bank Digital? (Foto: MNC Media)

IDXChannel - Sebagai pendatang baru, bank digital adu strategi dengan menggelontorkan biaya iklan dan promosi yang fantastis. Hal tersebut dilakukan agar bank tersebut lebih dikenal masyarakat dan tentunya untuk menggaet nasabah baru.

Bila ditelisik lebih lanjut, dana iklan dan promosi beberapa bank digital turut mengalami peningkatan besar-besaran dibandingkan tahun sebelumnya. Peningkatan tersebut berkisar antara 153 persen hingga 115,74 ribu persen. 

Tim Riset IDX Channel merangkum beberapa bank digital yang mengalami peningkatan dana iklan dan promosi pada Triwulan I-2022. Bank digital tersebut adalah Bank Neo Commerce (BBYB), Allo Bank Indonesia (BBHI), Bank Aladin Syariah (BANK), Bank Jago (ARTO), serta Bank Amar Indonesia (AMAR).

Biaya iklan dan promosi terbesar digelontorkan oleh BBYB, yakni sebesar Rp154,39 miliar pada triwulan pertama tahun ini. Bahkan, biaya tersebut melonjak sebesar 115,74 ribu persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Adapun biaya iklan dan promosi emiten ini di Triwulan I-2021 hanya sebesar Rp133,28 juta.

Selain BBYB, AMAR juga mencatat lonjakan biaya promosi dan iklan yang sangat besar yakni 153,24 persen secara tahunan (year on year/yoy). Berdasarkan laporan keuangannya, pada Triwulan I-2021, bank digital tersebut hanya mengeluarkan Rp14,98 miliar untuk biaya iklan dan promosi. Sementara pada periode yang sama tahun ini biaya tersebut membengkak hingga Rp37,94 miliar.

Selain kedua bank tersebut, Bank Jago (ARTO) juga mencatat biaya iklan dan promosi yang besar, yaitu Rp40,40 miliar pada Triwulan I-2022. Angka tersebut meningkat 607,83 persen dari biaya promosi tahun lalu yakni sebesar Rp5,70 miliar.

Biaya Iklan dan Promosi Bank Digital Triwulan I-2022

Sumber: Tim Riset IDX Channel, Juni 2022, Laporan Keuangan BBYB, BBHI, BANK, ARTO, dan AMAR (data olahan)

Sayangnya, biaya besar yang digelontorkan bank digital tersebut tidak senantiasa sebanding dengan pendapatan bunga yang diperoleh. Bank BBYB misalnya, pendapatan bunga bersih dari bank ini hanya sebesar Rp179,3 miliar. Namun, bank digital ini berani mengeluarkan biaya promosi yang besarnya mencapai Rp154,39 miliar.

Selain itu, BANK juga menggelontorkan biaya promosi yang terbilang besar bila disandingkan dengan pendapatannya. Tercatat pendapatan dari pengelolaan dana oleh bank sebagai mudharib dari emiten ini hanya sebesar Rp12,10 miliar. Padahal tak sedikit biaya promosi yang dikeluarkan, yakni mencapai Rp4,53 miliar.

Besarnya pengeluaran untuk biaya promosi menyebabkan bengkaknya kerugian pada bank digital. Dari riset diatas, sebanyak tiga dari lima bank digital membukukan kerugian. Adapun BBYB mengalami kerugian yang lebih besar dari emiten bank lainnya, yakni sebesar Rp416,73 miliar. Selain itu dua emiten lain juga menderita rugi yakni, BANK (Rp43,98 miliar) dan AMAR (Rp8,80 miliar).

Besarnya biaya promosi bank digital tersebut tak jadi masalah bila masing-masing emiten mencatatkan kenaikan pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK). Sebanyak empat emiten mencatatkan kenaikan pertumbuhan DPK. Meski BANK mencatatkan pertumbuhan DPK tertinggi, akan tetapi bank digital ini malah memperoleh jumlah DPK yang paling sedikit dibanding emiten lainnya.

Dari sisi penghimpunan dana pihak ketiga, BANK mencatat dana simpanan wadiahnya pada Triwulan I-2022 hanya sebesar Rp1 juta. Meski demikian, BANK berhasil mencatatkan kenaikan dana simpanan wadiah secara yoy, sebab sebelumnya emiten tersebut tidak menerima perolehan dana simpanan tersebut. Sementara laporan keuangan emiten ini pada Triwulan I-2022 mencatat adanya peningkatan tabungan mudharabah menjadi Rp51,91 miliar.

Selain BANK, beberapa emiten bank digital juga mencatatkan kenaikan pertumbuhan DPK yaitu BBHI (14,63 persen), BBYB (14,63 persen), dan ARTO (13,73 persen). Dari segi jumlah, perolehan DPK dari BBYB tercatat paling unggul yakni mencapai Rp9,23 triliun.

Akan tetapi, AMAR mencatatkan penurunan DPK bahkan persentasenya mencapai 39,41 persen. Adapun jumlah DPK AMAR pada triwulan pertama tahun ini sebesar Rp1,93 triliun. Meski DPK bank digital ini terpantau turun, AMAR malah mengeluarkan biaya promosi yang cukup besar, yakni Rp37,94 miliar. (ADF)

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD